Bisnis Hotel dan Resto Jeblok karena COVID-19

Bisnis Hotel dan Resto Jeblok karena COVID-19

Bisnis Hotel dan Resto Jeblok karena COVID-19, Gimana Nasib Sahamnya?

Bisnis Hotel dan Resto Jeblok karena COVID-19 – Salah satu sektor usaha yang terdampak cukup berat dengan adanya pandemi Covid-19 adalah bisnis perhotelan. Sebab selama wabah virus corona, orang-orang diimbau untuk tetap tinggal di rumah dan menghindari bepergian atau keluar rumah untuk sesuatu yang tidak mendesak. Bisnis perhotelan dan restoran adalah salah satu sektor yang terdampak cukup berat oleh pandemik COVID-19.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan PDB menurut sektor akomodasi dan makan minum pada data triwulan III 2020 mengalami pertumbuhan negatif, yaitu sebesar minus 11,86 persen. Meski ada sedikit peningkatan dari data triwulan II 2020 yang mencapai minus 22,02 persen. Analis di tim riset Lifepal.co.id, Aldo Jonathan menyebut hal ini wajar karena Login IDN Play kunjungan wisatawan belum pulih.

Otomatis, menurutnya, ini menyebabkan tingkat kunjungan ke hotel dan restoran masih rendah. “Beralihnya beragam kegiatan, seperti rapat, training, hingga seminar yang dahulu dilaksanakan di hotel, menjadi kegiatan yang bersifat virtual, juga menjadi salah satu penyebabnya,” kata Aldy dalam keterangan tertulisnya.

Tiga emiten perhotelan dan restoran ini di atas IHSG dan Indeks Trade, Services, Investment

Lifepal mencatat ada tiga emiten perhotelan dengan kinerja di atas IHSG dan Indeks Trade, Services, Investment. Mereka adalah:

PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID)

PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) didirikan di Jakarta tanggal 23 Mei 1969 dan mulai beroperasi pada 23 Maret 1974 dengan nama Hotel Sahid Jaya.

PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE)

PT Pudjiadi And Sons Tbk (PNSE) didirikan tanggal 17 Desember 1970 dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1970. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan PNSE adalah di bidang perhotelan dengan segala fasilitas dan sarana penunjang lainnya, antara lain jasa akomodasi, perkantoran, perbelanjaan, apartemen, sarana rekreasi dan hiburan yang berada di lokasi hotel.

PT Mas Murni Indonesia Tbk (MAMI).

PT Mas Murni Indonesia Tbk (MAMI) merupakan perusahaan manajemen properti yang berbasis di Indonesia. MAMI memiliki dan mengoperasikan sebuah hotel bintang empat di Surabaya, Indonesia, yang dioperasikan dengan nama Garden Palace Hotel.

Lalu bagaimana nasib saham hotel dan restoran?

Riset Lifepal.co.id menemukan meskipun kebutuhan jasa hotel dan restoran menurun di kala pandemi, nyatanya ada emiten-emiten pada sub sektor hotel dan restoran yang pergerakan harga sahamnya gemilang. Saham emiten-emoten ini di atas performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maupun Indeks Trade, Services, Investment, yakni indeks yang menaungi emiten perusahaan jasa perhotelan dan restoran.

“Sebaliknya, ada emiten yang performanya di bawah performa indeks tersebut. Tak hanya harga saham emiten hotel dan restoran, Lifepal juga membandingkan bagaimana penjualan dan keuntungan perusahaan-perusahaan hotel dan restoran tersebut,” ujar Aldy.

Performa di atas IHSG dan Indeks Trade, Services, Investment, SHID justru catatkan penurunan penjualan

Aldy mengatakan berdasarkan laporan keuangan SHID, tercatat adanya tren penurunan penjualan saat pandemik COVID-19 ini, yakni sebesar Rp30,9 triliun pada triwulan II 2020, turun atau minus 50,2 persen dibanding triwulan II 2019 yang sebesar Rp62,2 triliun.

Dari segi laba komprehensif, pada triwulan II 2020, SHID juga mencatat kerugian minus Rp22 triliun. Kerugian itu meningkat jika dibandingkan dengan triwulan II 2019 yang minus Rp19 triliun.

“Hal ini dikarenakan adanya penurunan signifikan pada penjualan SHID, dan tingginya beban usaha SHID. Dari segi pergerakan harga, dalam beberapa tahun terakhir, pergerakan harga saham SHID selalu mengalahkan IHSG dan indeks Trade, Services, Investment,” kata Aldy.

 

Comments are closed.