Bisnis Tanaman hingga Omzet Jutaan

Bisnis Tanaman hingga Omzet Jutaan

Kisah Sukses Bisnis Tanaman hingga Omzet Jutaan Bermodal Awal Plastik

Bisnis Tanaman hingga Omzet Jutaan – Peluang usaha bisa datang dari apa dan dimana saja bagi mereka yang dapat memanfaatkannya. Salah satunya dari daur ulang plastik. Siapa sangka cuma bermodal plastik ternyata bisa menghasilkan omzet hingga jutaan rupiah. Tapi itulah yang dialami pemilik bisnis tanaman Krafty-art, Yovita.

Kepada lefthip.com, Yovita menceritakan cara daftar idnplay memulai usahanya 3-4 tahun lalu. Saat itu, dia baru saja pindah ke rumah yang baru. Ada 20 tanaman lidah buaya dari penghuni sebelumnya. Karena terlalu banyak dan tidak sanggup mengurus, Yovita berniat membuangnya.

“Tadinya mau buang tapi karena tanamannya sehat dan bagus, gak jadi dibuang. Akhirnya saya jual deh, pindahkan ke plastik. Modal cuma kantong plastik waktu itu. Saya jual satu pot Rp5 ribu,” kata Yovita kepada lefthip.com, Senin.

Omzet besar per bulannya dari jualan tanaman

Meski harga tanaman cenderung naik turun, Yovie mengatakan omzetnya per bulan bisa mencapai Rp7-8 juta. Ia juga menyediakan jasa lanskap tanaman untuk rumah atau proyek lain. Namun karena pandemik COVID-19, ia terpaksa menunda jasa lanskap tersebut.

“Omzet 7-8 juta pe bulan. Kalau lanskap lumayan. Untuk daerah agak kecil Rp8-10 juta untuk satu rumah atau ladang dengan ukuran 3×4 meter. Tapi ini tidak rutin, paling sebulan sekali. Sekarang saya gak berani lanskap karena pandemik,” katanya.

Masalah akses dan edukasi tentang tanaman

Yovita melihat banyak peminat tanaman, namun ia hanya fokus mengirimkan ke Jakarta dan daerah yang masih terjangkau lainnya. Ia menilai permasalahan bisnis tanaman adalah kurangnya akses untuk membeli tanaman.

“Di Jakarta sendiri peminat tanaman banyak, tapi tidak banyak akses yang jual tanaman. Kalau di mal harganya bisa lebih mahal. Saat itu saya sudah kerja fulltime, kalau punya toko susah. Jualan secara online jadi pilihan saya. Saya mulai cari supplier. Awalnya sempat pindah-pindah supplier 2-3 kali,” katanya menceritakan.

Kedua adalah masalah edukasi tentang merawat tanaman. Banyak penjual yang hanya sekadar menjual tanaman tanpa memberitahukan informasi ke pelanggannya.

“Saya buat informasi tentang merawat tanaman dari Instagram Krafty-art. Jadi kamu beli jangan sampai mati. Saya usahakan tanaman yang saya jual ada tips dan trik merawatnya,” kata Yovita.

Belum tahu harga tanaman dan sempat banjir orderan

Yovita yang berprofesi sebagai dosen di salah satu universitas di Jakarta ini, mengunggah lidah buaya yang akan dijual ke Tokopedia. Tanpa disangka, empat hari kemudian banyak yang memesan karena harganya yang murah. Yovita mengaku belum tahu harga pasaran saat itu.

“Dibilang murah. Orang langsung pada beli. 20 pot habis dalam waktu dua hari,” katanya.

Ia bahkan lupa mengosongkan stok di Tokopedia hingga ada yang kembali memesan. Tidak mau pelanggannya kecewa karena stok habis, Yovita mencari lidah buaya lain ke beberapa tempat.

“Saya kelabakan. Gimana, orang sudah keburu pesan, saya gak enak nolak. Saya keliling dekat rumah ada gak yang jual tanaman, ternyata orang jual modal lebih dari itu (Rp5 ribu). Gak apa, demi bantu orang awalnya,” ujarnya.

Minat terhadap tanaman sudah tinggi sejak tahun lalu

Minat yang tinggi terhadap tanaman hias menurut Yovita sebenarnya sudah terjadi sejak tahun lalu atau sebelum pandemik. Namun bedanya, sebelum terjadi pandemik justru kebanyakan orang lebih banyak belanja secara daring karena sibuk bekerja di kantor.

“Sementara kalau sekarang, kebanyakan yang WFH, mereka justru tertarik beli langsung,” kata Yovita.

Ia juga mengakui animo tinggi masyarakat belakangan ini membuat harga tanaman hias bisa naik hingga tiga kali lipat. “Karena permintaan pasar tinggi, harga dari supplier juga jadi tinggi. Harga jual di atas Rp500 ribu dari sebelumnya sekitar Rp50-Rp150 ribu,” katanya.

Untuk tanaman yang banyak dicari masyarakat adalah bunga krisan, bunga lavender, daun mint, rosemary, jeruk kesturi dan bumbu dapur.

Comments are closed.