Kasus Hacking Data Terbesar

Kasus Hacking Data Terbesar

Kasus Hacking Data Terbesar

Kasus Hacking Data Terbesar – Perkembangan teknologi di era digital ini membawa banyak manfaat pada kehidupan manusia. Namun, seperti dua sisi mata uang, di balik manfaat yang ada, ternyata berbagai kejahatan pun berevolusi dan menghadirkan kerugian berkali lipat. Salah satu yang sering terjadi di dunia maya adalah kasus hacking.

Hacking adalah kegiatan memasuki sistem melalui sistem operasional lain yang dijalankan oleh Hacker. Tujuannya untuk mencari hole/bugs pada sistem yang akan dimasuki atau mencari titik keamanan sistem tersebut. Dalam tujuan negatif, istilah ini dikenal juga dengan Cracking.

Menurut Hosting Tribunal “Cybersecurity Statistic,” tiap 39 detik terjadi satu kasus hack di seluruh dunia. Jangankan perusahaan dengan sistem teknologi informasi yang rumit dan sudah terencana, individu seperti kita pun sering kali menjadi korban hack. Biasanya, lewat kamera HP, kamera laptop, virus, dan lain-lain.

Di Indonesia, tercatat 1,2 miliar serangan hack terjadi setiap hari. Berbagai jenis kasus pun bermunculan, mulai dari rekening pribadi yang dijebol, hingga data-data penting perusahaan yang dicuri.

Kasus peretasan data yang baru-baru ini menimpa Tokopedia, juga yang terjadi pada Bukalapak tahun lalu, juga pernah terjadi pada sejumlah perusahaan besar di dunia. Bedanya, di luar negeri, perusahaan yang lalai menjaga keamanan data pribadi penggunanya dikenakan denda karena dianggap lalai menjaga data konsumen.

Dilansir dari CSO Online, setidaknya ada 13 kasus peretasan data yang jika dijumlahkan melibatkan miliaran data pribadi penduduk bumi.

Berikut adalah daftar 10 kasus peretasan data terbesar dalam sejarah, berapa banyak pengguna yang terdampak, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana perusahaan merespons.

Yahoo

Tanggal: 2013-2014
Dampak: 3 miliar akun pengguna

Yahoo mengumumkan pada September 2016 bahwa pada tahun 2014 telah menjadi korban peretasan data terbesar yang pernah ada. Para penyerang, yang oleh perusahaan diyakini sebagai “hacker yang disponsori negara”, meretas data pengguna Yahoo berupa nama asli, alamat email, tanggal lahir dan nomor telepon dari 500 juta pengguna. Yahoo mengklaim bahwa sebagian besar kata sandi yang dicuri dilindungi dengan hash.

Pada Desember 2016, Yahoo mengungkapkan pelanggaran lain dari tahun 2013 oleh penyerang berbeda yang membahayakan nama, tanggal lahir, alamat email dan kata sandi, serta pertanyaan dan jawaban keamanan 1 miliar akun pengguna. Yahoo merevisi perkiraan itu pada Oktober 2017 untuk memasukkan semua 3 miliar akun penggunanya.

Saat pengumuman peretasan data itu, Yahoo sedang dalam proses akuisisi oleh Verizon, yang akhirnya membayar US$4,48 miliar untuk bisnis internet inti Yahoo. Pelanggaran itu menghancurkan nilai perusahaan.

Akibat peretasan data itu, Yahoo digugat class action karena dianggap lalai melindungi data konsumen. Pada Oktober 2019, Yahoo mengumumkan mengalokasikan dana Rp1,65 triliun untuk ganti rugi kepada pengguna yang terdampak. Yahoo menawarkan uang pengganti hingga US$358 per akun atau setara Rp 5 juta (asumsi US$1 = Rp 14.000) kepada pengguna yahoo yang emailnya diretas hacker.

Comments are closed.