Menteri Ida Ingin Menangis

Menteri Ida Ingin Menangis

Menteri Ida Ingin Menangis

Menteri Ida Ingin Menangis – Anggota Komisi IX DPR RI, Intan Fitriana Fauzi mempertanyakan keputusan pemerintah untuk mempekerjakan 500 tenaga kerja asing (TKA) asal China ke Morosi, Konawe, Sulawesi Tenggara. Terlebih keputusan tersebut diambil saat jutaan tenaga kerja lokal tengah kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19.

“Sebetulnya spesifik itu apa sih, Bu? Artinya pekerjaan itu sampai kemudian harus didatangkan 500 TKA dari China dan resistensinya besar,” ujar dia saat menggelar rapat bersama Kementerian Ketenagakerjaan di Komplek Senayan, Rabu.

Isu penggunaan tenaga kerja asing (TKA) asal China kembali menghangat usai pemerintah mengizinkan 500 pekerja dari Negeri Tirai Bambu masuk ke Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Sebagai regulator yang mengatur penggunaan tenaga kerja asing, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah pun dicecar oleh Komisi IX DPR RI saat menghadiri rapat kerja (raker) kemarin.

Anggota Komisi IX DPR RI Intan Fitriana Fauzi mempertanyakan alasan pemerintah memperbolehkan 500 TKA China masuk ke Konawe.

Ia juga meminta penjelasan secara rinci dari Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah terkait spesifikasi jabatan yang akan diisi oleh TKA China. Sekaligus durasi waktu bekerjanya.

“Saya penasaran Bu, karena ini menyangkut nurani kita semua! Mungkin spesifik pekerjaan tertentu dan jabatan tertentu, itu mohon dijawab,” pintanya.

Menjawab hal tersebut, Menteri Ida mengaku ingin menangis saat nurani dikaitkan dengan keputusan pemerintah mendatangkan 500 TKA China.

“Kalau misalnya kami mengeluarkan RPTKA (Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing), bukan berarti kami tidak punya nurani. Saya kira ini, pengin nangis jadinya. Kita bisa mengatasnamakan nurani dengan secara proporsional tentu saja, ya,” jelasnya.

“Saya ingin bertanya sebetulnya spesifik itu apa sih bu? artinya pekerjaan itu sampai kemudian harus 500 TKA dari China yang harus didatangkan dan resistensinya besar,” kata dia di Ruang Rapat Komisi IX DPR RI, Jakarta, Rabu.

Mendengar jawaban itu, Intan mengatakan apabila pertanyaan yang ingin disampaikannya bukan soal nurani. Melainkan spesifikasi jabatan dan durasi waktu terkait pekerjaan yang dilakukan oleh TKA asal China.

“Izin pimpinan, saya bicara nurani karena tadi saya bilang artinya saya tahu bahwa yang saya inginkan konkret Bu! Terkait spesifikasi pekerjaan tertentu dan jabatan tertentu,” terangnya.

Akan tetapi, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Ansory Siregar selaku pimpinan rapat menyatakan agar pembahasan terkait polemik kedatangan TKA tidak dilanjutkan. Sebab agenda rapat bersama Kemenaker kali ini tidak membahas polemik di tataran masyarakat ihwal kedatangan TKA ke Sulawesi Tenggara.

Dia ingin mendapat penjelasan mengenai spesifikasi TKA China yang masuk ke Indonesia mulai dari pekerjaannya, waktu bekerja, dan jabatannya.

“Saya penasaran Bu, karena ini menyangkut nurani kita semua, spesifik pekerjaan yang dimaksud dengan pekerjaan tertentu, mungkin kalau jangka waktu tertentu dan sebagainya. Spesifik pekerjaan tertentu dan jabatan tertentu itu mohon dijawab. Terima kasih,” lanjutnya.

Ida Fauziyah segera merespons hal tersebut. Dirinya tampak tak nyaman karena disinggung soal nurani berkaitan dengan diizinkannya TKA China masuk Indonesia.

“Saya kira kalau bicara nurani, saya kira kayaknya kita semua punya hal yang sama. Mohon maaf. Kalau misalnya kami mengeluarkan RPTKA (Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing), kiranya bukan berarti kami tidak punya nurani. Saya kira ini, pengin nangis jadinya. Kita bisa mengatasnamakan nurani dengan secara proporsional tentu saja,” ujarnya.

Intan pun menjelaskan bahwa yang dia tekankan bukan soal nurani tapi spesifikasi TKA China yang dipekerjakan di Indonesia. Namun mengingat agenda rapat tersebut tidak ada topik mengenai TKA, pembahasan pekerja asing tidak diteruskan.

Comments are closed.